Mengancam Anak

Bismillahirrahmanirahim (Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang)



Saya tahu sekali dalam ilmu parenting, mengancam anak itu sangat sangat di tidak bolehkan. sebagaimana seperti penelitian dampak dari ancaman itu adalah si anak akan merasa minder ketika dia terjun ke masyarakat. Sebagaimana Menurut Adele Faber, penulis buku How to Talk so Kids Will Listen and Listen so Kids Will Talk, ancaman adalah bentuk rasa tidak percaya orangtua atas kemampuan anak untuk mengatur hidupnya, sehingga butuh ada ancaman untuk memastikan anak melakukan tugas-tugasnya. Lebih jauh lagi Adele mengemukakan, anak yang terbiasa diancam akan tumbuh menjadi anak yang tidak punya kepercayaan diri, mudah takut, atau sebaliknya cenderung memberontak. Tapi apa daya, hanya dengan ancaman si anak bisa nurut. Ilmu parenting luntur semua ketika dihadapkan pada anak yang merengek meminta dibelikan mainan kotak-kotak yang dia lihat di Rumah Sakit sewaktu konsultasi giginya.Mainan itu harganya 1.350.000 nama mainan itu adalah Funtastic Learning. Saya yang sedang tidak ada uang kemudian mengancam anak saya
"Kamu mau mama kerja, terus kamu tinggal sama pembantu? terus sama pembantunya diperlakukan tidak baik?"
"ngga."
"Ya sudah kalau mau apa-apa kamu minta sama papa kamu saja. soalnya mama ngga punya kerja dan mama ngga punya uang sebanyak itu.Ini juga mama lagi usaha cari uang dengan jualan buku anak. Tapi kan kemarin uang mama sudah dibelikan boneka hapizah."
"Mau mama kerja?"
"Ngga. Tisya mau deket deket mama. Mama kalau mau kerja dirumah aja. Tisya ngga akan ganggu."
"Iya makannya kalau mau apa-apa bilang sama papamu soalnya uang papamu ngga semuanya ke mama."
"Iya." Kemudian si anak minta sama papanya tapi tidak pernah dibelikan. Saya tahu kenapa si anak lebih senang merengek sama saya, karena saya adalah sahabat dekatnya untuk si anak. Salah memang kalau jawaban saya mengancam seperti itu. Si anak malah akan takut, tapi saya ingin dia mengerti seperti apa keadaan saya sekarang ini.
Entahlah tepat atau tidak berbicara seperti itu pada anak umur 3 tahun. Yang jelas saya sangat lelah. Lelah dengan rutinitas yang tiada henti. Lelah dengan keadaan uang yang pas-pasan. Dan sedih ketika saya tidak bisa memberikan apa yang anak saya mau. Iya .. apa yang dia mau bukan jajanan yang ujungnya tidak bermanfaat, melainkan jajanan untuk nutrisi otaknya. Andaikan saya punya rezeki pasti saya belikan semua buku yang akan mendukung kegiatan belajar sambil bermainnya. Parahnya saya tidak pernah klop dengan suami saya. Entahlah agak pelit atau apa, setiap minta uang untuk beli buku edukatif tidak pernah didukung. Saya merasa sendirian kalau seperti ini. Iya memang dari awal saya urus anak saya sendirian. Semoga rezekinya mengalir tiada henti seperti air laut yang tidak pernah kering, seperti ombak yang selalu datang walaupun ketika surut.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Produk Wardah Acne Series

Liwet Sapi For My baby

Acer Switch Alpha 12 : Si Notebook Tablet yang Menunjang Kreatifitas Tanpa Batas