Zona Nyaman Vs Zona yang Katanya Tidak Nyaman

Sumber Foto : Unsplash

Keluar dari zona nyaman menuju zona sangat tidak nyaman. Perlu pemikiran yang besar, perlu tubuh yang berdiri kokoh, perlu motivasi yang sangat kuat. Perlu kuat ketika badai menerjang. Sebetulnya pekerjaan yang paling enak itu adalah menjadi guru atau menjadi seorang pegawai negeri. Iya pegawai negeri berada dizona aman dengan gaji tetap. Jadi guru kelihatannya enak tapi gajinya sangat kecil sekali. Iya pekerjaan saya dulu sangat enak sekali, bekerja menjadi seorang staf disebuah perguruan tinggi Negeri di Bandung.
Hanya saja saya harus memilih, memilih antara pernikahan dan pekerjaan. Seorang bocah lucu itu, tak mungkin saya sia-siakan.  Hingga akhirnya saya memilih resign dan menjadi seorang ibu rumah tangga. Pekerjaan yang menjadi cita-cita dan harapan saya itu, harus saya relakan pergi padahal tidak pernah rela. Kembali lagi pada dalil quran dan pepatah kalau semua itu hanya sementara dan titipan.
Rasulullah SAW bersabda : "Barangsiapa yang mempunyai anak puteri, lalu ia mengajarinya dengan baik dan mendidiknya dengan baik, maka anak itu kelak akan menjadi tabir yang melindunginya dari neraka." (Bukhari)

Saya pernah meminta kematian kepada Allah, zaman jahiliyah saya yang merasa merana menanggung hamil sendirian dan dalam keadaan LDR sama suami. Ditambah lagi saya pernah dibandingkan Ibu saya sama sepupu saya gara-gara hidupnya lebih indah, suaminya lebih kaya. Saya sangat down waktu itu dan saya sendirian kemudian saya Meminta semuanya berakhir ketika saya sedang hamil dan dikabulkan sama Allah saya mengalami kecelakaan ketika saya mengandung anak saya 4 bulan, saat itu saya tidak peduli saya hamil atau tidak, saya masih pulang larut malam sendirian bukan dari bekerja tapi saya pergi kebioskop mencari hiburan, toh ngga ada yang peduli kan? Paling cuman sms bla bla bla, menonton film film romantis dan masih berharap kalau hal itu akan terjadi pada saya. Ada pangeran berkuda putih mengajak saya keluar dari semua penderitaan yang saya alami yah dengan bergelimang harta karena bagaimanapun kekayaan yang utama biarpun kata Al-quran dan pengalaman seseorang ibadah yang utama sedangkan bisnis dan pekerjaan adalah sebuah sambilan. Tapi itu kan hanya teori, realitanya tidak seperti itu. Tapi ketika saya bertemu seseorang yang mencamkan teori ini, ternyata dibalik kesederhanaannya dan sandal jepitnya itu dia memiliki banyak perusahaan yang berkembang pesat. Dia bilang bisa seperti itu karena dia rajin sedekah. Disuruhnya bagi-bagi nasi tiap hari Jumat. Alasannya kenapa? saya harus cari tahu sendiri. :D
Hingga akhirnya saya mengalami kecelakaan yang saya pun tidak ingat kronologisnya seperti apa ketika saya hamil 4 bulan. Apakah saya mati? Tidak, Allah memberikan saya kesempatan kedua. Kandungan saya sama sekali tidak apa-apa. Iya ini hanya teguran dari Allah untuk saya bahwa saya harus selalu bersyukur. Saat itu Saya masih belum peka apakah iyah mereka sayang sama saya atau hanya sekedar berbela sungkawa kemudian upload di sosial media?

Entahlah, hanya Allah yang tahu. Yang jelas itu dulu.

Kembali pada tugas pokok utama perempuan, yaitu mendidik anak dan mengurus anak dan suami. Kemudian saya memilih ikhtiar menjadi seorang Book Advisoor alias marketing buku. Seru sekali. Rezeki itu datang dari arah yang tidak terduga. Toh uangnya hanya untuk berpoya poya kan? Tahu lah iya, perempuan tiap bulan harus beli banyak baju, tas, sepatu, buku-buku, gaya hidup sosialita. Biarpun iya, dicover suami tapi kadang suka serakah sendiri. :D

Dengan banyak alasan dan setelah terjadi sesuatu yang mengharukan. Akhirnya saya memutuskan untuk keluarga. Sekolah Ekstensi S1 saya dan niat ambil beasiswa S2, semuanya saya tinggalkan di Bandung. Merantau ke sebuah Pulau yang masih sejuk ketika pagi hari dan panas ketika siang hari. Menghirup bau laut ketika sore hari, makan kelapa muda di pantai sore-sore. Itu yang sangat saya suka. Apapun harus disyukuri dan dinikmati.  selalu saya lupakan. Hal yang Saya anggap ini adalah hadiah terindah dari Allah. Berada di Tempat yang jauh dari kemacetan dan hiruk pikuk perkotaan. Jadi sekarang kebalik, saya kalau mudik ke Kota kalau tinggal di perKampungan. :D

Sekarang semuanya berubah, Allah membukakan jalan dengan sendirinya. Akhirnya saya pergi dari Bandung menuju Bangka. Semua orang berkata semoga bahagia, iya saya tahu orang mana yang peduli sama saya dan benar-benar tulus dari hati.  Terkadang oranglain bisa menjadi orangtua kita.  terkadang oranglain bisa jadi saudara kita.
Apa yang diniatkan semua akan terbuka lebar. Saya yang asalnya tidak mengenal siapa-siapa hingga akhirnya Allah memberikan jalan untuk mengenal banyak orang. Membuka pintu rezeki dari arah yang tidak terduga. Memberikan suami yang sudah banyak berubah. Iya mungkin selama ini saya gagal paham, dia mempersiapkan semuanya untuk saya tapi sayanya selalu berprasangka buruk. Sedangkan ibu saya, dia sudah tidak pernah membandingkan lagi, iya mungkin karena sekarang kegiatannya banyak dihabiskan di masjid untuk pengajian ketimbang di Rumah. Semua sudah sesuai porsinya.

-Tulisan ini sudah terpendam di draft bertahun-tahun dan baru saya publikasikan sekarang- hehehhe

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Produk Wardah Acne Series

Liwet Sapi For My baby

Acer Switch Alpha 12 : Si Notebook Tablet yang Menunjang Kreatifitas Tanpa Batas